Lompat ke isi

Ta ohu'uwo:MarwanMHD/baki lo hungayo

Lonto Wikipedia, ensiklopedia pereyi bahasa Hulontalo

Tumbilo tohe adalah tradisi memasang lampu di halaman rumah-rumah penduduk dan di jalan-jalan terutama jalan menuju masjid yang menandakan berakhirnya Ramadan di Gorontalo.[1] Tradisi ini dilakukan pada 27 ramadan atau 3 malam terakhir menjelang hari raya Idul Fitri. Penyalaan lampu dimulai sejak waktu magrib sampai menjelang subuh.[1][2] Biasanya yang menyalakan lampu adalah kepala keluarga masing-masing didahului dengan membacakan surah Al-Qadr.[3]

Etimologi

[boli'a | boli'a bungo]

Tumbilo tohe berasal dari bahasa Gorontalo, yaitu tumbilo dan tohe. Tumbilo artinya memasang, dan tohe artinya lampu.[4]

Sejarah

[boli'a | boli'a bungo]

Tradisi tumbilo tohe sudah berlangsung lama di Gorontalo, diperkirakan sudah ada sejak abad 15. Saat itu lampu penerangan masih menggunakan getah damar beku yang diletakkan dalam sebuah wadah transparan sehingga bisa menerangi sekitarnya dan tidak mati jika tertiup angin. Lampu jenis ini dinamakan tohe tutu yang jika diartikan ke bahasa Indonesia maknanya adalah lampu sejati atau 'lampu asli.

Ada juga yang menggunakan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya. Wadah yang digunakan biasanya pepaya mentah yang dibelah menjadi dua bagian. Wadah lainnya adalah kulit kerang besar. Wadah ini diisi dengan air dan minyak kelapa. Air akan menempati sisi bawah dan minyak kelapa akan berada di bagian atas. Sesudah itu dipasang sumbu dari kapas yang ditancapkan di bagian tengah wadah. Kedua jenis wadah ini dipilih karena untuk menghindari kebakaran, meskipun api membesar, pepaya mentah dan kulit kerang yang keras tidak akan ikut terbakar meskipun api membesar tertiup angin. Lampu ini dinamakan padamala. Seiring waktu, penggunaan pepaya dan kerang mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya adalah gelas transparan, sehingga api lampunya tidak padam meskipun tertiup angin.

ref name=lip6> (Indonesia) situs http://berita.liputan6.com/ "Tumbilotohe Sambut Malam Lailatul Qadar". Diakses tanggal 12-8-2.  </ref>

Keistimewaan

[boli'a | boli'a bungo]

Tumbilo tohe merupakan salah satu kekayaan budaya yang unik di Gorontalo. Walaupun di daerah sekitar Gorontalo ada festival serupa, seperti di Bolaang Mongondow Utara ada "Maninjulo Lambu" dan di Bolaang Mongondow Selatan ada "Sumpilo Soga", tapi tidak sesemarak di Gorontalo.

Pada tahun 2007 silam, tradisi tumbilotohe ini masuk Museum Rekor Indonesia (MURI), karena lima juta lampu menyemarakkan tradisi ini dan menghiasai wajah kota Gorontalo.[5]

Referensi

[boli'a | boli'a bungo]
  1. 1 2 (Inggris) Situs www.indonesia-tourism.com "MarwanMHD/baki lo hungayo Tradition Gorontalo". Diakses tanggal 12-8-2.
  2. Tilala mokupe'i: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama lip6
  3. Tumbilotohe Tradisi Malam Lailatul Qadr ala Gorontalo diakses 31 Mei 2018
  4. Malam Tumbilotohe - Wonderful Indonesia. Diakses 14 Juli 2015.
  5. Tumbilotohe, Festival Lebaran Paling Ramai di Gorontalo Saat Lebaran Diakses 31 Mei 2018

Kategori:Gorontalo Kategori:Festival keagamaan